Ditulis Oleh : Amelina Junidar
“Barangsiapa yang meringankan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan meringankan satu kesusahan darinya pada hari kiamat.” (H.R. Muslim)
Hadis ini terputar kembali dalam ingatan Aina setiap kali mendapati sosok kecil yang sama di depan sekolah. Badannya kumal, lutut dan siku penuh luka. Sesekali menggaruk kepala dan menggesekkan kedua kaki. Seingatnya, kemaren juga pakaian dengan warna serupa. Hanya saja kali ini lebih pudar. Mungkin kebanyakan terkena sinar matahari.
***
Sosok kecil itu memejam, mengurut-urut kerongkongan seraya mengusap perutnya yang masih saja berbunyi nyaring. Berharap keajaiban datang. Tak terduga, mata yang sebelumnya redup itu berbinar cerah. Sebungkus roti menghalangi pandangan. Membuatnya menelan ludah tanpa sadar.
“Silakan, Dik.” Sebuah suara menyembul ketika ia bangkit dari duduk. Belum selesai kekaguman itu, di pangkuannya, sudah tersusun rapi sebungkus roti dan sebotol air mineral.
“Ainaaa … saatnya masuk kelas!” panggil Bu Guru menyaksikan pemandangan di luar gerbang.
“Jangan lupa dimakan ya, Dik.” Tak lupa Aina mengusap lengannya sebelum benar-benar hilang dalam kerumunan.
“Terima kasih, Kak!” serunya setelah punggung Aina menjauh dibalas lambaian. ***

